Cara Penggemukan Kepiting Bakau

Loading...
Assalam Link - Kegiatan budidaya dengan cara penggemukan kepiting bakau yang dilakukan oleh pelaku utama saat ini adalah bersifat tradisional yang menunjukkan gejala produksi dari tahun ketahun semakin menurun, hal tersebut berdampak pada penurunan pendapatan pelaku utama pembudidaya.

Selain hal tersebut diatas permasalahan yang dihadapi pelaku utama adalah rendahnya harga kepiting hasil budidaya di tambak yang disebabkan oleh kualitas produk yang tidak memenuhi standar pasar eksport atau kepiting yang tidak pull telur pada betina dan kepiting yang masih keropos pada janta.

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui difersifikasi usaha budidaya kepiting bakau yaitu dengan Penggemukan Kepiting Bakau. Kegiatan ini relatif lebih mudah dan cepat menghasilkan.

Kegiatan budidaya ini sangat cocok dilakukan kerena dapat memanfaatkan lahan tambak tanpa mengganggu usaha pembesaran karena hanya memanfaatkan sedikit lahan. Dengan demikian Penyuluh Kelautan dan Perikanan sebagai pengantar teknologi ke pelaku utama harus memberikan contoh Penggemukan Kepiting Bakau dengan teknologi yang lebih baik.
Kecamatan Cenrana memiliki potensi tambak denga luas areal ± 3.158,74 ha yang tersebar di 12 Desa, areal tersebut umumnya digunakan sebagai areal budidaya kepiting bakau yang dikelola secara tradisional dengan sistem polykultur antara ikan bandeng dan udang.  Dalam budidaya kepiting di tambak memerlukan air payau yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas. Sumber air di Kecamatan Cenrana khususnya Desa Pallae berasal dari sungai Cenrana dimana sumber air tawarnya beasal dari hasil buangan dari beberapa kabupaten yang berada di sekitar danau tempe dan bermuara di desa Pusunge, Laoni dan Cakkeware.  Pada kondisi cuaca yang normal parameter kualtas air pada perairan di Desa Pallae yaitu berada pada kisaran 12 – 25 ‰, Menurut Ghufron (1997) salinitas yang optimal untuk kepiting bakau adalah 15 – 30 ‰. Jika dilihat kondisi salinitas perairan di Desa Pallae termasuk rendah namun jenis kepiting bakau yang dominan adalah kepiting bakau merah tergolong jenis kepiting yang cocok pada kondisi salinitas yang agak rendan dibanding dengan jenis kepiting bakau lainnya.  pH air yang umum di Kec. Cenrana 7 – 8 menurut Guratno (1993) dalam Hartina (1998) kisaran optimal untuk budidaya kepiting bakau adalah 6,5 – 8,5. Suhu perairan rata-rata yaitu 25 – 320C, menurut Gufron (1997) dan Hartina (1998) mengemukakan bahwa untuk budidaya kepiting dan di tambak suhu yang cocok adalah 23 – 320C. pH tanah rata-rata yaitu 6 – 7,5, sedangkan menurut Ghufron (1997) bahawa tanah yang baik untuk dijadikan lahan tambak mempunyai pH kurang lebih 6,5 – 8,5. Tanah yang memiliki pH rendah dapat diatasi dengan jalan reklamasi (pencucian), atau dengan melakukan pengapuran.  Sumberdaya Manusia Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) di Kecamatan Cenrana yang melakukan kegiatan budidaya di tambak yaitu 1.361. Tingkat pendidikan rata-rata tamat SD atau sederajad, memiliki kemampuan yang diperoleh dari hasil pengalaman petani lainnya dan bimbingan dari Penyuluh Kelautan dan Perikanan. Pengalaman berusaha rata-rata 5 tahun keatas, dan berusia 25 – 60 tahun, menurut Wiraatmatja (1996) tahapan suatu proses adopsi sasaran, petani terhadap inovasi teknologi, maka petani yang ada termasuk dalam golongan pengetrap akhir, dimana usianya ada yang mencapai 45 tahun keatas, keadaannya kurang mampu, dalam menerapkan hal-hal baru sifatnya kurang giat, akan tetapi jika mendapat suatu keyakinan dan dipengaruhi oleh suatu contoh yang berhasil maka mereka akan mengikuti dan melaksanakan anjuran tersebut.
Dengan demikian mari lanjutkan membaca mengenai beberapa kondisi lapangan dan beberapa analisa masalah serta rencana kegiatan penggemukan kepiting bakau di berbagai daerah Nusantara. Salah satunya yaitu wilayah Provinsi Sulawesi Selatan di Kabupaten Bone yang mempuyai sumberdaya yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan berbagai kegiatan budidaya. Berikut beberapa potensi dan sumberdaya lainnya.

Sumberdaya Alam
Kecamatan Cenrana memiliki potensi tambak denga luas areal ± 3.158,74 ha yang tersebar di 12 Desa, areal tersebut umumnya digunakan sebagai areal budidaya kepiting bakau yang dikelola secara tradisional dengan sistem polykultur antara ikan bandeng dan udang.

Dalam budidaya kepiting di tambak memerlukan air payau yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas. Sumber air di Kecamatan Cenrana khususnya Desa Pallae berasal dari sungai Cenrana dimana sumber air tawarnya beasal dari hasil buangan dari beberapa kabupaten yang berada di sekitar danau tempe dan bermuara di desa Pusunge, Laoni dan Cakkeware.

Pada kondisi cuaca yang normal parameter kualtas air pada perairan di Desa Pallae yaitu berada pada kisaran 12 – 25 ‰, Menurut Ghufron (1997) salinitas yang optimal untuk kepiting bakau adalah 15 – 30 ‰. Jika dilihat kondisi salinitas perairan di Desa Pallae termasuk rendah namun jenis kepiting bakau yang dominan adalah kepiting bakau merah tergolong jenis kepiting yang cocok pada kondisi salinitas yang agak rendan dibanding dengan jenis kepiting bakau lainnya.

pH air yang umum di Kec. Cenrana 7 – 8 menurut Guratno (1993) dalam Hartina (1998) kisaran optimal untuk budidaya kepiting bakau adalah 6,5 – 8,5. Suhu perairan rata-rata yaitu 25 – 320C, menurut Gufron (1997) dan Hartina (1998) mengemukakan bahwa untuk budidaya kepiting dan di tambak suhu yang cocok adalah 23 – 320C.
pH tanah rata-rata yaitu 6 – 7,5, sedangkan menurut Ghufron (1997) bahawa tanah yang baik untuk dijadikan lahan tambak mempunyai pH kurang lebih 6,5 – 8,5. Tanah yang memiliki pH rendah dapat diatasi dengan jalan reklamasi (pencucian), atau dengan melakukan pengapuran.

Sumberdaya Manusia
Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) di Kecamatan Cenrana yang melakukan kegiatan budidaya di tambak yaitu 1.361. Tingkat pendidikan rata-rata tamat SD atau sederajad, memiliki kemampuan yang diperoleh dari hasil pengalaman petani lainnya dan bimbingan dari Penyuluh Kelautan dan Perikanan. Pengalaman berusaha rata-rata 5 tahun keatas, dan berusia 25 – 60 tahun.

Menurut Wiraatmatja (1996) tahapan suatu proses adopsi sasaran, petani terhadap inovasi teknologi, maka petani yang ada termasuk dalam golongan pengetrap akhir, dimana usianya ada yang mencapai 45 tahun keatas, keadaannya kurang mampu, dalam menerapkan hal-hal baru sifatnya kurang giat, akan tetapi jika mendapat suatu keyakinan dan dipengaruhi oleh suatu contoh yang berhasil maka mereka akan mengikuti dan melaksanakan anjuran tersebut.

Tingkat Penerapan Teknologi
Kegiatan budidaya di tambak yang dilakukan di Kecamartan Cenrana rata-rata menerapkan teknologi secara polykultur dan bersifat tradisional, hal ini dipicu karena kegiatan budidaya udang selama ini banyak mengalami kegagalan akibat dari serangan penyakit, sehingga pelaku utama bayak yang beralih ke pemeliharaan secara polykultur antara kepiting bakau dan ikan bandeng maupun udang.

Untuk kegiatan penggemukan kepiting bakau di Desa Pallae sudah dilakukan oleh beberapa pelaku utama namun demikian tingkat penerapan teknologi yang diterapkan masih perlu ditingkatkan.

Pemasaran dan Kondisi Pasar
Pemasaran dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan lokal di Sulawesi Selatan dimana selama ini sangat banyak permintaan untuk konsumsi terutama pada restoran atau rumah makan. Untuk tujuan eksport dapat dipasarkan melalui pengfepul yang ada di lokasi yang selama ini membutuhkan stok produksi yang cukup menjanjikan dan belum tepenuhi kebutuhannya.

Analisis Masalah
Untuk keberhasilan kegiatan ini diperlukan langkah untuk mengatasi berbagai masalah yang kemungkinan akan dihadapi. Ketepatan waktu pemeliharaan sangat diperlukan, hal ini perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah yang optimal untuk kegiatan Penggemukan Kepiting Bakau. Jika waktu tidak diperhatikan maka kemungkinan terjadinya perubahan situasi yang tidak mendukung kegiatan budidaya yang dilakukan, sehingga tujuan dari kegiatan ini tidak tercapai.
Lihat & Baca Juga :
- Analisa Peluang Pasar Kepiting Bakau
- Tips & Kiat Bertambak Udang Vannamei
- Cara Analisa Peluang Pasar Budidaya Rumput Laut
Pesiapan yang benar sangat menentukan keberhasilan, dan persiapan yang terburu-buru potensi untuk mengalami kerugian, beberapa hal yang diperlukan dalam persiapan Penggemukan Kepiting Bakau untuk mengeleminir masalah yang ditemui adalah : Pembuatan Konstruksi Karamba, Pemasangan Karamba, Pemberian Pakan dan Seleksi saat panen.

Sebelum penebaran dilakukan faktor yang sangat penting adalah penempatan, dan pemasangan karamba ditambak karena bila tidak tepat dapat menyebabkan kerugian.

Proses pemeliharaan walaupun relatif singkat tapi perlu ketelitian terutama dalam hal pembrian pakan dan kebersihan wadah yang digunakan. Kekurangan pakan dapat menyebabkan kanibalisme.
Seleksi waktu panen menentukan kualitas kepiting , dan Pasca Panen juga menentukan baik atau buruknya kualitas hingga kekonsumen.

Perencanaan Kegiatan
Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam Penggemukan Kepiting Bakau adalah sebagai berikut :
a. Persiapan Wadah
1. Pembuatan Karamba
Kegiatan pembuatan karamba dengan menggunakan bahan yang murah dan mudah didapat berupa bilah bambu dan tiang/rangka dari balok kayu

2. Pemasangan Karamba
Cara pemasangan karamba untuk penggemukan kepting bakau dapat dilakukan dengan dua cara yaitu permanen dengan jalan bilah bambu bagian bawah ditanam di dasar tambak dan tidak permanen yaitu berbentuk kurungan segi empat yang dapat dipindah-pindah.
Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam Penggemukan Kepiting Bakau adalah sebagai berikut : a. Persiapan Wadah 1. Pembuatan Karamba Kegiatan pembuatan karamba dengan menggunakan bahan yang murah dan mudah didapat berupa bilah bambu dan tiang/rangka dari balok kayu  2. Pemasangan Karamba Pemasangan karamba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu permanen dengan jalan bilah bambu bagian bawah ditanam di dasar tambak dan tidak permanen yaitu berbentuk kurungan segi empat yang dapat dipindah-pindah.
b. Penebaran
Ukuran Kepiting yang akan di tebar yang memenuhi ukuran eksport yaitu minimal memiliki bobot tubuh 200 gram, dan kepadatan disesuaikan dengan ukuran karamba yang telah disediakan yaitu untuk ukuran 2 x 1 x 1 meter akan ditebari kepiting sebanyak 100 ekor.

c. Pemeliharaan
1. Pemberian Pakan
Pemberian pakan akan dilakukan 1 - 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan dosis 5 - 10 % dari perkiraan berat total kepiting yang dipelihara atau dengan jalan melihat kondisi pakan yang diberikan apabila pakan yang diberikan banyak sisa maka jumlah pakan dikurangi.

Jenis pakan yang akan digunakan berupa ikan rucah dan kepiting non ekonomis (ketam) yang biasanya dapat didapatkan disekitar lokasi tambak. Pakan ikan rucah dipotong kecil-kecil sehingga dapat merata.

2. Pengontrolan
Selama pemeliharaan dilakukan pengontrolan secara intesif.. Pengontrolan juga dilakukan dengan melihat kondisi keramba atau tempat pemeliharaan dan kondisi kepiting. Pengotrolan akan dilakukan dengan melewati jembatan/titian yang telah disediakan. Jika kondisi karamba kotor sebaiknya dilakukan pembersihan untuk menghindari terjadinya serangan penyakit dll.

d. Pemanenan
Pemanenan akan dilakukan setelah pemeliharaan berlangsung selama 5 – 10 hari. Pemanenan dilakukan secara selektif kepiting yang belum memenuhi standar akan dipelihara kembali dalam karamba. Panen dilakukan dengan menggunakan seser.

e. Penanganan Pascapanen
Kepiting yang telah dipanen diikat dengan menggunakan pucuk daun nipah yang umum digunakan pelaku utama dilokasi pertambakan.

f. Pemasaran
Pemasaran produksi penggemukan yaitu umumnya langsung pada pengepul yang telah ada di lokasi dan hanya sebagian kecil untuk konsumen lokal.
Pemanenan akan dilakukan setelah pemeliharaan berlangsung selama 5 – 10 hari. Pemanenan dilakukan secara selektif kepiting yang belum memenuhi standar akan dipelihara kembali dalam karamba. Panen dilakukan dengan menggunakan seser.  e. Penanganan Pascapanen Kepiting yang telah dipanen diikat dengan menggunakan pucuk daun nipah yang umum digunakan pelaku utama dilokasi pertambakan.  f. Pemasaran Pemasaran produksi penggemukan yaitu umumnya langsung pada pengepul yang telah ada di lokasi dan hanya sebagian kecil untuk konsumen lokal.
g. Analisa Usaha
Analisa Usaha kegiatan yang berkaitan Penggemukan Kepiting Bakau/Unit Karamba
Berikut tabel yang bisa dijadikan sebagai acuan perhitungan yang terendah ataupun sebaliknya.
 No. Uraian KegiatanBanyaknyaJumlah (Rp.)
I
Biaya

A
Biaya Tetap

1.
Sewa tanah 10 hari
10 m2
50.000
2.
Penyusutan Alat


- Keramba ( JUE 1 )
1 Unit
34.425

- Keranjang
1 Unit
3.937

- Seser
1 Unit
1.125
3.
Tenaga Kerja
1 Orang
100.000

Jumlah

189.487
4.
Bunga Modal (15 % )
852

Jumlah Biaya Tetap

185.339




B
Biaya Tidak Tetap

1.
Sarana Produksi


- Kepiting
100 Ekor
900.000

- Pakan
10 Kg
150.000
2.
Tenaga Kerja
1 Orang
100.000

Jumlah

1.150.000
3.
Bunga Modal (15 %)
5.175

Jumlah Biaya Tetap

1.155.175
C
Total Biaya ( A + B )
1.340.514
II
Penerimaan
20 Kg
1.800.000
III
Pendapatan ( II-C )
459.486
IV
R/C Racio ( II : C )
1,34
Sedangkan rencana anggaran/biaya untuk 10 unit keramba kurang lebih sebagai berikut.
 Komponen Biaya BanyaknyaSatuanHarga Satuan
(Rp.)
Jumlah (Rp.)
Balok Kayu 3x5x500 cm
100
batang
75.000
7.500.000
Bambu
200
batang
30.000
6.000.000
Paku 3 cm
20
kg
20.000
400.000
Paku Putih 7 cm
20
kg
40.000
800.000
Keranjang Pelastik
10
unit
170.000
1.700.000
Seser
10
unit
50.000
500.000
Tali nilon no.4
10
roll
60.000
600.000
Kepiting BS
1.000
ekor
9.000
9.000.000
Pakan Ikan Rucah
100
kg
15.000
1.500.000
Tenaga Kerja
10
orang

2.000.000
Total :



30.000.000
Itulah beberapa analisa usaha budidaya penggemukan kepiting bakau, dan semoga bisa membantu serta bisa bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Amin
Loading...

Postingan Terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Cara Penggemukan Kepiting Bakau"

Post a Comment

Tata Tertib Berkomentar di Blog Assalam Link :
1. Kalimat/Kata-kata Tidak Mengandung Unsur (SARA).
2. Berkomentar Sesuai dengan Artikel Postingan.
3. Dilarang Keras Promosi Apapun Bentuk dan Jenisnya.
4. Link Aktif/Mati, Tidak Dipublikasikan dan Dianggap SPAM.
5. Ingat Semua Komentar Dimoderasi

Terimakasih Atas Pengertiannya.

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis